
Namaku Ida. Usiaku di tahun 2020
ini adalah 34 tahun. Walaupun aku
bukan termasuk cewek yang
cantik, teman-temanku sering
mengatakan kalau aku ini
termasuk cewek yang menarik. Rambutku lurus berwarna hitam
dengan panjang mencapai
punggungku. Tubuhku yang sedikit berisi
menyebabkan payudaraku
menyesuaikan diri sehingga aku
mengenakan bra nomor 36B untuk
membungkus kedua payudaraku
itu. Vaginaku dihiasi oleh bulu-bulu yang indah walaupun jumlahnya
tidak terlalu banyak. Aku tinggal
sendirian di rumahku yang terletak
di kota Surabaya ini karena sampai
saat ini aku masih belum menikah.
Walaupun demikian, kehidupan seks yang aku jalani sangat indah
karena aku selalu mendapatkan
cara untuk memuaskan hasratku. Pada suatu hari Minggu siang
minggu ke dua bulan Januari
2020, aku di telepon oleh
keponakanku yang bernama Alex
saat aku sedang membaca email
yang masuk di da_kulthida@yahoo.com milikku.. Usianya 16 tahun dan berwajah
lumayan tampan. “Halo, tante Ida .. ?”, katanya dari
seberang telepon.
“Iya, siapa ini .. ?, tanyaku.
“Alex, tante ..”
“Oh.. kenapa, Lex ?”
“Tante, kalau boleh Alex mau minta bantuan tante.”
“Bantuan apa ?”
“Boleh tidak kalau tante jadi model
untuk Alex foto ?”
“Buat apa kamu foto-foto tante ?”
“Cuma iseng aja kok ..” Aku mengerti dengan
keinginannya ini. Alex sedang
menekuni hobi fotografi sehingga
tentu saja dia mencari-cari apa saja
yang bisa di foto olehnya.
“Boleh saja..”, kataku. “Terima kasih tante. Saya akan
datang sebentar lagi. Kira-kira 10
menit lagi sampai. Kita foto-foto di
rumah tante saja.”
“Oke, kalau gitu. Tante tunggu,
ya ...” Aku menutup telepon itu dan
segera menuju ke kamar tidurku
untuk mengambil pakaian agar aku
dapat menutupi tubuhku yang saat
ini hanya sedang memakai celana
dalam berwarna putih saja. Jika aku sendirian di rumah, aku
memang biasanya selalu dalam
keadaan setengah telanjang atau
telanjang bulat. Bila ada yang
hendak datang, baru aku mencari
pakaian untuk menutupi tubuhku itu. Kebiasaan ini sudah berlangsung
sejak aku berumur 27 tahun yaitu
sejak aku tinggal sendirian di
rumah itu. Di dalam kamar tidurku,
aku tidak langsung menuju lemari
pakaian. Aku memutuskan untuk membubuhkan sedikit make up ke
wajahku sebab Alex akan
memakaiku sebagai model untuk
fotonya dan aku ingin tampil
sedikit menarik di depan
kameranya. Setelah selesai memakai make up,
dari dalam lemari pakaian aku
mengambil sebuah rok terusan
tanpa lengan berwarna putih
dengan strip biru yang panjangnya
sedikit di atas lututku. Tanpa memakai bra lagi, aku segera
memakai rok itu dan
merapikannya sebelum akhirnya
aku mengikatkan ikat pinggang
putih yang menjadi bagian dari rok
itu. Baru saja saat aku selesai
mengenakan pakaianku, aku
mendengar bel pintu berbunyi.
Dengan melangkah sedikit cepat,
aku keluar dari kamar tidurku dan
segera menuju pintu depan untuk membuka pintu. Rupanya Alex
sudah tiba di rumahku. “Halo tante.. Tante kelihatan
cantik“, katanya sambil tersenyum.
“Tentu saja. Kan mau jadi model..
ayo, masuk.. ”, kataku sambil
tersenyum pula.
Alex segera melangkah masuk ke rumahku. Aku segera menutup
pintu depan dan kemudian
mengajaknya ke ruang tengah.
Sesampainya kami di ruang itu,
Alex berkata,
“Kita bisa mulai tante ?” “Oh, bisa saja .. kamu mau di
mana ?”, tanyaku.
“Bagaimana kalau di teman
belakang rumah tante ?”
“Ok..” Kami kemudian menuju ke taman
belakang rumahku. Taman
belakang rumahku termasuk cukup
luas dan memiliki tatanan yang
cukup bagus serta dikelilingi oleh
pagar tembok yang cukup tinggi sehingga tidak ada orang yang bisa
melihat ke dalam tamanku ini.
Sesampainya kami di taman ini,
Alex mulai mengeluarkan kamera
digitalnya dan memulai
kegiatannya. Alex bertindak sebagai fotografer sekaligus
pengarah gaya. Setelah beberapa
lama, akhirnya kami hampir selesai. “Tante, ini foto yang terakhir. Aku
minta tante berdiri
membelakangiku. Saat aku
memberikan aba-aba, tolong tante
berputar menghadapku. Tolong
jangan berputar terlalu cepat. Biasa saja.. “, katanya. Aku melakukan apa yang seperti
dia katakan dan dia menjepretku.
Akhirnya kegiatan kami sudah
selesai dan kami tinggal melihat
hasilnya. Alex segera
memindahkan foto-foto tersebut dari memory card ke dalam laptop
yang dibawanya. Setelah selesai,
aku dan Alex bersama-sama
memeriksa hasil fotonya. Foto yang terakhir membuatku
agak terkejut, sebab di dalam foto
itu terlihat bahwa ternyata saat
aku berputar, rokku tersibak dan
celana dalamku yang berwarna
putih terlihat dengan jelas. Selain itu, tanpa aku sadari ternyata
bagian dada dari bajuku menjadi
longgar karena beberapa kali
bergaya sehingga sebagian
payudaraku terlihat tidak tertutup,
bahkan puting payudaraku telihat samar-samar dari baliknya. Saat
aku melihat keponakanku,
wajahnya terlihat datar saja.
Rupanya dia sudah tahu kalau
hasilnya bakal begini. “Foto ini paling bagus”, katanya.
“Tapi celana dalam tante
kelihatan ..”, kataku.
“Justru di sini bagusnya. Tante
kelihatan seksi sekali..”
Aku tersenyum saja. Walaupun sedikit merasa malu, aku menyukai
fotoku yang terakhir itu juga.
“Lex, tante minta copy dari file
gambar yang terakhir ini..”, kataku
“Oke..”, katanya. Setelah kegiatan kami berakhir,
Alex tidak langsung pulang. Kami
kembali ke ruang tengah dan
duduk di sofa untuk berbincang-
bincang. Selama berbincang-
bincang, Alex terus menatap bagian dadaku yang sejak tadi
menampakan sebagian payudaraku
seperti di dalam foto karena aku
lupa untuk membetulkannya. Saat
aku menyadari hal itu, aku tidak
berusaha untuk menutupinya. Ada perasaan senang yang menjalari
tubuhku. Setelah beberapa lama,
akhirnya aku berkata, “Lex, kenapa melihat dada tante
terus ?”
Alex sedikit terkejut. Dia menoleh
ke tempat lain sambil menjawab,
“Ngak ada apa-apa, kok tante..”
Aku tersenyum melihat tingkahnya. Aku sangat suka kalau
dia melihatku seperti itu. “Lex, kalau kamu suka, kamu boleh
melihatnya lagi kok”, kataku.
Tanpa menunggu tanggapan dari
Alex, aku melebarkan bagian dada
bajuku sehingga kali ini kedua
payudaraku dapat terlihat dengan jelas. Alex yang mendapat
pemandangan seperti itu segera saja
melotot dan melahap kedua
payudaraku dengan pandangan
yang penuh minat. Aku yang
melihatnya seperti itu tersenyum dan membiarkan Alex untuk
menjelajahi dadaku dengan
pandangannya. Akhirnya Alex menjadi tidak
tahan. Dia bertanya kepadaku,
“Tante, bolehkah Alex
memegangnya ?” Aku mengangguk sambil
tersenyum.Tanpa membuang
waktu lagi, Alex segera menggapai
kedua payudaraku dengan
tangannya dan mulai meremas-
remas serta mempermainkan putingnya. Kontan saja aku
menjadi terangsang. Kubaringkan tubuhku ke atas sofa
dan kupejamkan mataku untuk
menikmati sensasinya. Setelah agak
lama, tanpa permisi lagi Alex mulai
menciumi dan menjilati kedua
payudaraku. Aku terus saja memejamkan mata dan menikmati
setiap rangsangan di payudaraku.
Tubuhku ikut memberikan reaksi
terhadap rangsangan itu. Aku merasakan cairan
kewanitaanku mulai mengalir dan
membasahi vaginaku. Setelah
beberapa lama, tanganku mulai
membuka pakaian Alex. Sambil
terus menciumi dan menjilati kedua payudaraku, Alex membantuku
membuka bajunya sehingga dalam
sekejab Alex berada dalam keadaan
telanjang bulat. Penisnya terlihat
berdiri tegak karena sudah pasti dia
juga dalam keadaan terangsang. Untuk sementara, dia
melampiaskan nafsunya kepada
kedua payudaraku. Aku tidak mau
ketinggalan. Kujulurkan tanganku
untuk menggapai penisnya. Setelah
penisnya berada di dalam genggamanku, aku mulai
memainkan penisnya pula. Setelah beberapa saat lamanya,
Alex melepaskan bibirnya dari
payudaraku dan berkata, “Tante, kalau boleh aku juga ingin
melihat memek tante”
Mendengar permintaannya ini aku
segera berdiri dan mengangkat
rokku dengan tanganku sehingga
sekali lagi aku memamerkan celana dalam putihku kepadanya. “Kamu buka sendiri celana dalam
tante”, kataku.
Alex segera berjongkok di
depanku dan dengan tangan yang
agak gemetar meraih celana
dalamku. Dengan perlahan-lahan namun pasti, celana dalamku
melorot turun dan sedikit demi
sedikit memperlihatkan rambut
vaginaku sampai akhirnya
keseluruhan vaginaku tidak lagi
ditutupi oleh celana dalam putihku. Vaginaku terlihat sedikit basah oleh
karena cairan kewanitaaanku. Alex
membiarkan celana dalam putihku
tersangkut di bagian lututku dan
mulai meraba vaginaku. “Tante, ini indah sekali”, katanya
sambil membelai rambut vaginaku
dengan lembut.
Aku diam saja dan kembali
merasakan rangsangan yang kali ini
berpindah dari payudara ke vaginaku. Dengan jarinya, Alex menyodok-
nyodok liang vaginaku sehingga
jarinya dibasahi oleh cairan
kewanitaanku. Setelah Alex
menjilati jari-jarinya itu sampai
semua cairan kewanitaanku yang menempel di jarinya habis, dia
kembali menyodok-nyodokan
jarinya di liang vaginaku lagi. Dia
melakukan hal itu berkali-kali . Kelihatannya dia sangat menikmati
cairan kewanitaanku. Sambil
menusuk-nusuk liang vaginaku,
jari-jarinya yang lain memainkan
klitorisku. Rangsangan yang aku
rasakan menjadi semakin hebat. Di saat aku merasakan tubuhku
menjadi semakin lemas, aku segera
membaringkan diriku di atas sofa
karena rangsangan menjadi
semakin kuat. Tak henti-hentinya mulutku
mendesah-desah karena merasa
nikmat. Setelah puas meraba
vaginaku, Alex mulai menciumi dan
menjilati vaginaku. Kali ini
rangsangan terasa semakin dashyat. Aku tidak bisa berbuat
apa-apa kecuali mendesah dan
meremas-remas kedua payudaraku
sendiri sementara Alex terus saja
menciumi dan menjilati vaginaku. Aku yang sudah dalam keadaan
sangat terangsang akhirnya mulai
tidak tahan. “Lex, buka pakaian
tante sampai tante telanjang
bulat ..”, kataku sambil mendesah-
desah. Alex tidak menjawab, tetapi
tangannya mulai membuka ikat
pinggang rokku dan tidak lama
kemudian aku sudah berada dalam
keadaan telanjang. Tidak lupa Alex meloloskan celana
dalam putihku yang dari tadi
tergantung di kedua lututku
sehingga tidak ada selembar
benangpun yang tersisa di tubuhku.
Alex terdiam sejenak dan memandangi tubuhku yang dalam
keadaan polos tanpa pakaian. “Tante cantik sekali. Tubuh tante
bagus dan sexy”, katanya.
Aku tersenyum dan berkata,
“Kalau kamu suka, kamu boleh
menyetubuhi tante. Tante mau
berhubungan intim dengan kamu, kok..”
Dengan tersenyum, Alex kemudian
membuka kedua kakiku dan
memposisikan penisnya di depan
vaginaku. Dengan satu hentakan lembut,
seluruh penisnya terbenam ke
dalam vaginaku yang diikuti oleh
teriakan tertahanku karena
merasakan kenikmatan. Setelah itu,
Alex mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga
penisnya menyodok-nyodok di
dalam lubang vaginaku. Cairan kewanitaanku turut
memberikan andil dalam
membantu penis Alex agar
meluncur maju mundur dengan
mudah dalam liang vaginaku ini.
Kami berdua mendesah-desah karena nikmat. Dalam posisi ini, aku
mengalami orgasme berkali-kali
sambil diiringi erangan-erangan dari
bibirku. Setelah beberapa saat, Alex
menarik penisnya dan memberikan
isyarat agar aku menungging. Aku
menurut saja. Kuputar badanku dan
kutunggingkan pantatku di
depannya. Sedetik kemudian, aku merasakan penisnya masuk
kembali ke dalam liang vaginaku
dan mulai menyodok-nyodok lagi.
Rupanya Alex melakukan doggy
style kali ini. Sekali lagi aku terjebak dalam
dashyatnya kenikmatan
berhubungan intim. Beberapa kali
aku merasakan orgasme yang luar
biasa sebelum akhirnya aku
mendengar erangan kenikmatan dari bibir Alex yang disertai dengan
semburan spermanya di dalam
rahimku yang menandakan bahwa
akhirnya Alex telah mencapai
kenikmatan puncak pula. Sperma
Alex terasa hangat di dalam rahimku. Setelah menyemburkan
spermanya, Alex mencabut
penisnya. Aku merasa bahwa ada sedikit
sperma yang meleleh keluar dari
liang vaginaku dan membasahi
vaginaku bagian luar saat penisnya
tercabut. Segera saja aku
menjulurkan jari-jariku ke vaginaku dan mengambil lelehan
sperma yang mengalir turun.
Setelah jari-jariku berlumuran
sperma Alex, aku membersihkan
jari-jariku dengan menjilat-jilat
sperma yang melekatinya. Rasa sperma yang khas selalu
membuat aku senang. Setelah itu,
Aku membalikkan badanku yang
dalam keadaan telanjang
menghadapnya terlentang. Sisa
sperma Alex yang sudah tinggal sedikit masih terlihat menempel di
vaginaku bagian luar. Alex
kemudian merebahkan dirinya di
atas badanku dan memelukku. Aku
segera membalas pelukannya. Sambil berpelukan dalam keadaan
telajang bulat, kami saling
berciuman bibir dengan mesra
untuk beberapa saat lamanya.
Perasaan yang nikmat masih tersisa
di antara kami. Akhirnya setelah beberapa saat,
kami memperoleh kekuatan kami
kembali. Kami segera bangkit dari
pembaringan dan mulai memunguti
pakaian kami yang tercecer di
mana-mana. Aku segera mengenakan kembali celana dalam
putih dan rokku. Setelah selesai
berpakaian, kami kembali duduk di
sofa dan berbincang. “Tante, tadi enak sekali. Tante
memang nikmat”, katanya.
Aku tersenyum saja dan lalu
berkata, “Kamu juga hebat. Kamu belajar
dari mana ? Usiamu kan baru 16
tahun, tapi kok kayaknya kamu
sudah sering melakukan hubungan
seks ?”
“Ah, tante. Alex ini sudah sering melakukannya sama mama di
rumah..” Aku sangat terkejut
mendengarnya. Rupanya selain
aku, kakakku juga melakukan
incest dengan anaknya sendiri. Tapi
hal ini membuat aku sedikit lega
sebab setidaknya kakakku tidak akan mempermasalahkan
hubungan seksku dengan anaknya
bila dia sendiri juga melakukannya.
“Terus, mana yang lebih enak ?
Mamamu atau tante ini ?”
Alex tersenyum sambil berkata, “Kalian berdua sama-sama enak,
kok.. tapi kalau disuruh memilih,
Alex masih lebih suka
melakukannya dengan tante
soalnya tante lebih cantik dari
mama, sih..” “Apa kamu sering melakukan
dengan mamamu ?”
“Kalau papa ngak ada di rumah aja”
Aku diam saja kali ini. Beberapa
saat kemudian Alex berkata,
“Tante, Alex mau pamit.” “Sudah mau pulang ?”
“Iya, tante.” “Ya, sudah kalau gitu. Hati-hati di
jalan, ya..”
“Ok.. Oh ya, lain kali Alex masih
boleh memotret tante ?”
Aku mengangguk sambil
tersenyum. “Tentu saja, kalau mau pose yang
agak nakal tante bersedia kok”,
kataku.
“Bayarannya pakai ‘itu’ ya ..”
Kali ini aku tertawa.
“Apa saja, deh..” Alex melangkah pergi sambil
melambaikan tangannya. Aku
membalas lambaiannya dan
memandang dia mengendarai
mobilnya sampai menghilang dari
pandanganku sebelum akhirnya aku menutup pintu rumahku dan
menguncinya. Hari ini merupakan
hari yang sungguh
menggembirakan bagiku karena
aku memperoleh satu cara lagi
untuk memuaskan hasratku.