
Play/Download
Sambungan dari bagian 02
Tak lama kemudian, Bruno menyiramkan spermanya ke dalam mulutku. Dengan
lahap aku menelannya. Sebagian lagi mengucur keluar dari mulutku dan
jatuh melalui daguku ke dadaku yang telanjang. Semprotan air mani yang
encer tapi pekat itu tersebar ke rambut dan seluruh wajahku, bahkan
sampai ke bahu dan kedua payudaraku. Aku merasa puas sekali.
Sementara itu Parulian sejak awal mengabadikan adegan percintaan kami
dengan sebuah handycam. Setelah selesai, dengan wajah dan badan yang
berantakan karena basah kuyup oleh air mani anjing, aku tersenyum dengan
manis ke arah handycam Parulian. Lidahku sesekali masih menjilati alat
kelamin Bruno maupun air maninya yang membasahi jari-jariku. Sementara
itu Parulian meng-close up wajahku selama beberapa saat.
Kupikir aku harus menunggu beberapa lama untuk memulai ronde berikutnya.
Yang kutahu, seorang manusia lelaki bila telah mengalami orgasme akan
menjadi lemas. Ternyata tidak demikian dengan kekasih hewanku. Kontolnya
masih cukup keras. Sandra menyuruhku untuk menambah keras lagi kontol
Bruno dengan mulutku. Aku melakukannya, dan dalam waktu singkat alat
kelamin itu telah kembali ke ukuran maksimalnya. Aku merasa takjub dan
senang memiliki kekasih yang perkasa seperti itu.
"Bagus. Nah, sekarang kita harus membuatmu dibuahi oleh sperma anjing",
kata Sandra yang merasa puas dengan pekerjaanku. Ia membimbingku ke sofa
dan mendudukkan diriku di antara mereka berdua. Aku segera mengangkat
kedua kakiku tinggi-tinggi dan mereka mengambil kakiku masing-masing
satu dan mengangkangkan kakiku lebar-lebar, menawarkan memekku kepada
Bruno. Bruno melompat menaiki tubuhku dan memegangiku dengan kedua kaki
depannya tepat di bahuku. Tanganku menggapai ke bawah dan meraih
kontolnya yang keras, serta membimbing ujungnya ke dalam lubang
senggamaku.
Goyangan pinggul Bruno segera memompa kontolnya yang panjangnya hampir
mencapai 16 cm ke dalam tempatnya, yaitu lubang memekku. Aku
merintih-rintih kenikmatan dibuatnya. Aku kehilangan kontrol. Tak
kusadari aku menjeritkan kata-kata kotor yang hanya pantas diucapkan
oleh pelacur murahan yang tak bermoral. "Oh, ya.. Rasanya enak sekali..
Aaah, enak sekali dikawini anjing.. Ya, ya.. setubuhi aku terus. Pompa..
ya, pompa lagi anjingku.. kekasihku.. Oooh. Aku milikmu, setubuhi terus
betinamu.. Oooh, hamili aku.. Hamili aku!"
Anjing itu terus memompaku dengan keras dan cepat selama sepuluh menit
sebelum menyemprotkan air maninya yang banyak sekali ke dalam diriku.
Aku dapat merasakan air maninya yang hangat menghujani rahimku. Aku baru
menyadari kalau air mani anjing terasa lebih panas daripada air mani
manusia.
Bruno berusaha menarik kontolnya dari dalam memekku setelah puas
melampiaskan nafsunya terhadap diriku, tetapi ia tak bisa melakukannya.
Kami telah terikat bersama. Kedua alat kelamin kami tak bisa dipisahkan.
Seekor anjing jantan memiliki buhul atau gumpalan yang besar di sekitar
pangkal kelaminnya. Buhul itu dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa kontol
si anjing jantan tetap berada di dalam memek betinanya dalam waktu yang
cukup lama ketika mereka bersetubuh. Dengan demikian sperma si anjing
jantan mempunyai cukup waktu untuk mencapai sel-sel telur betinanya.
Tanpa mekanisme itu, sebagian besar air mani yang masuk ke dalam memek
si betina akan langsung keluar lagi sehingga memperkecil kemungkinan si
betina untuk hamil. Kedua sejoli ini baru bisa terpisah setelah kelamin
si jantan mengerut kembali, dan ini memakan waktu antara 15 sampai 45
menit. Paling tidak demikianlah menurut berbagai literatur tentang
perkawinan anjing yang sempat kubaca dalam rangka menghadapi
perkawinanku dengan Bruno.
Dengan demikian aku sama sekali tak terkejut ketika kami tak terpisahkan
setelah selesai bersetubuh. Justru peristiwa inilah yang
kuharap-harapkan. Aku benar-benar menikmati saat-saat yang sangat intim
tersebut. Belum pernah sebelumnya aku merasa begitu dimiliki dan
dikuasai. Belum pernah juga sebelumnya aku merasa begitu pasrah
menyerahkan diriku untuk dihamili, apalagi oleh seekor anjing.
Pikiran-pikiran itu saja membuatku mengalami orgasme.
Sandra meletakkan kedua kaki depan Bruno di pundakku selama kami
menunggu. Sementara aku mengelus-elus tubuh kekasih hewanku yang berbulu
dan kami pun berciuman dengan mesra dan intim. Pasangan Sandra dan
Parulian dapat melihat dengan jelas kedua alat kelamin kami yang saling
terhubung.
Setelah kami berdua terpisah setengah jam kemudian, Parulian bertanya
kepadaku, "Maria, apakah kamu benar-benar bisa mengatur suamimu supaya
ia tak mendahului Bruno jika ingin menyetubuhimu?"
Aku memandang Parulian dan berkata, "Itu bisa membuat Anda terangsang, ya kan?"
"Ya. Itu membuat kami berdua terangsang."
"Aku merasa senang jika memang demikian. Ya, aku percaya dapat melakukannya. Apa yang sebenarnya Anda inginkan?"
"Oke, kami akan sangat menyukainya jika kamu dapat menetapkan bahwa
suamimu tak dapat mengintimimu sebelum Bruno mengintimimu. Dengan
sepengetahuan kami tentunya."
"Ada lagi. Kami ingin ada jaminan bahwa kau tak akan melanggar aturan
itu. Kami tak dapat menerima jika kau berbohong dan berselingkuh
terhadap anjing kami", Sandra menambahkan.
"Tentu saja tidak. Apa usulan Anda untuk itu?"
"Sabuk kesucian, dengan kuncinya kami sendiri yang memegang."
"Sabuk kesucian! Kedengarannya ide yang sangat bagus. Apakah Anda memilikinya?"
Sandra tersenyum dan berkata, "Tunggu sebentar."
Ia kembali dengan sebuah alat yang aneh. Aku berdiri untuk memeriksa
alat itu. Nampaknya seperti bagian bawah dari bikini tali, hanya saja
terbuat dari kombinasi sabuk metal dan rantai besar yang terbentang di
tengah-tengah sabuk itu. Sandra memakaikan sabuk itu di sekeliling
pinggulku dengan erat dan melewatkan rantai itu dari bagian belakang
sabuk melalui celah pantatku, terus menutupi lubang kemaluanku di bagian
depan, lalu mengaitkannya kembali ke sabuk bagian depan dengan ketat
dan menguncinya. Dengan kondisi seperti itu, aku benar-benar tak dapat
lagi disetubuhi.
"Nah, begitulah. Kau tetap bisa pipis dan besar dengan sabuk itu
terpasang pada tubuhmu. Hanya saja kau harus bekerja ekstra untuk
membersihkannya. Kau selalu bisa datang kemari dan kami akan membukakan
kuncinya."
Aku segera pulang ke rumah setelah itu. Beni belum lama tiba di rumah
dan baru saja hendak menonton TV sambil membawa beberapa kaleng bir dan
sepiring cemilan. Ia terpaku di tempatnya dan memandangi sekujur
tubuhku. Hampir saja kaleng-kaleng bir itu terlepas dari tangannya.
"Sayang, apa yang terjadi?"
Aku berjalan ke arahnya. Pandangan kedua mata suamiku tertuju pada alat
yang terpasang pada selangkanganku, lalu pada cairan yang mengalir
menuruni kedua kakiku.
"Ini air mani anjing, Beni. Aku baru saja bersetubuh dengan anjing tetangga kita."
Aku segera berlalu dari hadapannya menuju pancuran untuk mandi
membersihkan diriku. Beni mengikutiku persis seperti yang kuharapkan.
Sementara itu aku menyalakan kran air dan mulai mandi di bawahnya.
"Maukah kau memperjelas apa yang kau katakan barusan?"
"Kata-kata apa yang tidak kau mengerti?"
"Kau bersetubuh dengan seekor anjing?"
"Bagus, Beni. Kurasa kau mengerti maksudku."
"Mengapa?"
"Karena ia menyetubuhiku lebih baik dan lebih lama daripada kamu. Ia
adalah pemain seks yang hebat. Aku adalah betinanya. Ia adalah
kekasihku. Ada pertanyaan yang lain?"
"Apakah tetangga kita tahu?"
"Justru merekalah yang merencanakannya. Tugasku adalah melayani anjing
mereka. Dan aku mengerjakan tugasku dengan sungguh-sungguh."
"Lalu alat apa itu dan kenapa kamu berkeliaran bugil di luar?"
"Aku tidak bugil. Aku mengenakan sabuk kesucian."
"Sabuk kesucian? Itu kan untuk perawan-perawan di zaman dulu."
"Bukan, sabuk ini untuk mencegah kontol yang tak berhak mengakses memek dan lubang pantat yang sudah dimiliki secara pribadi."
"Siapa yang memegang kuncinya?"
"Keluarga Sandra dan Parulian, tentu saja."
"Lalu bagaimana caranya kalau aku ingin menyetubuhimu?"
"Yah, itulah masalahnya. Tetangga kita mempunyai aturan. Bruno, anjing
mereka, akan selalu mendapat jatah pertama. Kau baru boleh menyetubuhiku
setelah itu. Mereka bilang mereka mau saja mengizinkanmu untuk
menyetubuhiku selama kamu mau mengikuti aturan ini dan aku sudah
menjamin mereka dan mengatakan pada mereka bahwa mereka tak perlu
khawatir."
Aku sebetulnya agak terkejut (sekaligus gembira) ketika Beni ternyata
tidak bereaksi negatif. Pandangan matanya tak terlepas sedikit pun dari
sabuk kesucianku. Ia memintaku untuk menjelaskan secara rinci
kejadiannya. Birahinya yang menggebu mengkhianati perasaannya yang
seharusnya timbul akibat perbuatanku mengambil seekor anjing sebagai
kekasih. Aku pun memberinya penjelasan secara rinci tentang semua
peristiwa yang terjadi dan efeknya terhadap diriku. Ia hampir saja
berejakulasi di celananya ketika kusebutkan bahwa Bruno akan selalu
mendapatkan jatah memek yang segar dan bersih, sedangkan ia akan selalu
mendapatkan bagian sesudahnya hanya jika pasangan Sandra dan Parulian
merasa puas dengan penerimaannya yang total dan sungguh-sungguh atas
aturan yang berlaku ini. Malamnya, ia sudah sangat siap untuk menelepon
keluarga Sandra dan Parulian dan menjelaskan bahwa ia sudah memahami
peranannya.
Aku hampir-hampir mengalami orgasme hanya mendengarkan suamiku memberi
tahu mereka bahwa ia akan selalu mendahulukan Bruno dan bahwa aku adalah
kekasih dan betina si Bruno yang nomor satu. Mereka lalu menyuruh Beni
untuk membawaku ke sana untuk dikawini lagi oleh Bruno.
Beni pada awalnya tak suka berjalan bersamaku yang hanya mengenakan
sabuk kesucian, tapi aku tak memberinya pilihan lain. Selesai berkenalan
dengan suamiku, pasangan Sandra dan Parulian melepaskan sabuk
kesucianku dan menyuruhku merendahkan diriku dalam posisi merangkak
untuk memberikan pelayanan seks oral kepada anjing mereka di depan
suamiku.
Setelah itu Bruno menyetubuhiku dari belakang dengan gaya anjing dan
mengisi peranakanku dengan benih-benihnya. Seperti sebelumnya, setelah
usai aku terikat dengan Bruno selama sekitar setengah jam. Beni
sepenuhnya menikmati, menontonku kawin dengan hewan liar itu. Begitu aku
dan Bruno terpisah, pasangan Sandra dan Parulian menyerahkan sebuah
kalung anjing kepada Beni yang langsung memasangkannya di leherku.
Mereka menyuruh Beni supaya aku selalu mengenakan kalung anjing itu.
Kalung itu mempunyai sebuah tempat nama yang menggantung dengan tulisan
"Betina si Bruno" yang tertulis di kedua sisinya dengan huruf-huruf
besar yang mudah dibaca dari jarak beberapa meter. Aku mengenakan kalung
itu dengan bangga dan bermaksud untuk memakainya terus setiap saat.
Parulian mengaitkan seutas tali ke kalung anjingku dan menyerahkan
ujungnya kepada Beni.
Sejak saat itu, Beni tak pernah menyetubuhiku sebelum Bruno mendapatkan
bagiannya. Jika masa suburku tiba, minimal selama tiga hari aku selalu
menginap di rumah keluarga Sandra dan Parulian supaya bisa kawin setiap
saat dengan anjing mereka. Juga untuk meyakinkan bahwa tak ada benih
suamiku yang bisa menghamiliku selama masa itu. Aku mencintai suamiku,
aku senang menjadi istrinya dan sama sekali tak mempunyai keinginan
untuk bercerai dengannya, tapi aku juga sudah tak ingin lagi memiliki
anak darinya karena aku sudah mempunyai kekasih baru, Bruno. Jika aku
harus hamil, biarlah itu berasal dari benih anjing kekasihku.
Selama aku menginap di rumah keluarga Sandra dan Parulian, aku tak
pernah mengenakan pakaian apa pun kecuali kalung anjingku. Bahkan ketika
pergi ke rumah mereka pun aku tak membawa pakaian secuil pun. Demikian
pula ketika aku pulang kembali ke rumah suamiku setelah masa suburku
lewat.
Beni tampak senang menjalani kehidupan seperti itu. Kami mulai memiliki
segudang koleksi foto dan video tentang kehidupan cintaku bersama Bruno,
kebanyakan berisi adegan-adegan percintaan seksual secara eksplisit.
Kadang-kadang Beni serta pasangan Sandra dan Parulian membawaku dan
Bruno ke hutan kecil dekat rumah kami untuk berjalan-jalan. Kami pergi
bermobil ke sana dan memarkir mobil di pinggiran hutan, lalu berjalan
kaki masuk ke dalamnya. Tentu saja aku tak mengenakan apa-apa kecuali
kalung anjingku dan seutas tali kekang yang terkait padanya. Lalu mereka
bertiga berjalan-jalan mengelilingi hutan sambil memegang tali-tali
yang terikat pada leherku dan leher Bruno. Aku diperlakukan sama seperti
anjing karena aku adalah betina Bruno. Jika Bruno tiba-tiba muncul
birahinya maka ia akan segera mengawiniku saat itu juga tanpa
mempedulikan tempatnya. Sementara itu suamiku serta pasangan Sandra dan
Parulian pun akan berhenti sejenak dan mengabadikan seluruh adegan itu
dengan kamera dan handycam mereka.
Yah, begitulah kehidupan seekor anjing. Dan aku sangat menikmatinya!
TAMAT